Mengangkat tangan ketika sedang berdoa adalah hal yang disyariatkan dalam Islam. Perbuatan ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga nilai tambah yang mendukung terkabulnya doa. Mari kita bahas secara rinci bagaimana hukum dan tata caranya.

Hukum Asal Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Tidak kami ketahui adanya perbedaan diantara para ulama bahwa pada asalnya mengangkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa. Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir maânawi. Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam bersabda:
Ø£ÙÙÙÙ'ÙÙØ§ اÙÙÙÙ'Ø§Ø³ÙØ Ø¥ÙÙÙÙ' اÙÙÙÙ Ø·ÙÙÙÙ'ب٠ÙÙØ§ ÙÙÙÙ'بÙÙ٠إÙÙÙÙ'ا Ø·ÙÙÙÙ'Ø¨ÙØ§Ø ÙÙØ¥ÙÙÙÙ' اÙÙÙ٠أÙÙ
ÙØ±Ù اÙÙ'Ù
ÙØ¤Ù'Ù
ÙÙÙÙÙ٠بÙÙ
ÙØ§ Ø£ÙÙ
ÙØ±Ù بÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙØ±Ù'سÙÙÙÙÙÙØ ÙÙÙÙØ§ÙÙ: {ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙ'ÙÙØ§ Ø§ÙØ±ÙÙ'سÙÙÙ ÙÙÙÙÙØ§ Ù
ÙÙÙ Ø§ÙØ·ÙÙ'ÙÙÙ'Ø¨ÙØ§ØªÙ ÙÙØ§Ø¹Ù'Ù
ÙÙÙÙØ§ ØµÙØ§ÙÙØÙØ§Ø Ø¥ÙÙÙÙ'٠بÙÙ
ÙØ§ ØªÙØ¹Ù'Ù
ÙÙÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ
Ù} ÙÙÙÙØ§ÙÙ: {ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙ'ÙÙØ§ اÙÙÙ'ذÙÙÙ٠آÙ
ÙÙÙÙØ§ ÙÙÙÙÙØ§ Ù
ÙÙÙ' Ø·ÙÙÙÙ'Ø¨ÙØ§ØªÙ Ù
ÙØ§ Ø±ÙØ²ÙÙÙ'ÙÙØ§ÙÙÙ
Ù'} Ø«ÙÙ
ÙÙ' ذÙÙÙØ±Ù Ø§ÙØ±ÙÙ'جÙÙÙ ÙÙØ·ÙÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙÙ'ÙÙØ±Ù Ø£ÙØ´Ù'Ø¹ÙØ«Ù Ø£ÙØºÙ'Ø¨ÙØ±ÙØ ÙÙÙ
ÙØ¯ÙÙ' ÙÙØ¯ÙÙÙ'Ù٠إÙÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙÙ'Ù
ÙØ§Ø¡ÙØ ÙÙØ§ Ø±ÙØ¨ÙÙ'Ø ÙÙØ§ Ø±ÙØ¨ÙÙ'Ø ÙÙÙ
ÙØ·Ù'عÙÙ
ÙÙÙ ØÙØ±ÙØ§Ù
ÙØ ÙÙÙ
ÙØ´Ù'Ø±ÙØ¨ÙÙÙ ØÙØ±ÙØ§Ù
ÙØ ÙÙÙ
ÙÙÙ'Ø¨ÙØ³ÙÙÙ ØÙØ±ÙØ§Ù
ÙØ ÙÙØºÙذÙÙÙ Ø¨ÙØ §ÙÙ'ØÙØ±ÙØ§Ù
ÙØ ÙÙØ£ÙÙÙÙ'Ù ÙÙØ³Ù'ØªÙØ¬Ùاب٠ÙÙØ°ÙÙÙÙÙØ
âWahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Taâala berfirman, âWahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalihâ (QS. Al Muâmin: 51). Alla Taâala berfirman, âWahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamuâ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: âWahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..â padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?â (HR. Muslim)
Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam juga bersabda:
Ø¥ÙÙÙÙ' اÙÙÙÙ'ÙÙ ØÙÙÙÙÙÙ' ÙÙØ±ÙÙÙ
Ù ÙÙØ³Ù'ØªÙØÙ'ÙÙÙ Ø¥ÙØ°Ùا رÙÙÙØ¹Ù Ø§ÙØ±ÙÙ'جÙÙ٠إÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ¯ÙÙÙ'Ù٠أÙÙÙ' ÙÙØ±ÙدÙÙ'ÙÙÙ
ÙØ§ صÙÙÙ'Ø±ÙØ§ Ø®ÙØ§Ø¦ÙØ¨ÙØªÙÙÙ'ÙÙ
âSesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampaâ (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaamiâ 2070)
As Shanâani menjelaskan: âHadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyakâ (Subulus Salam, 2/708)
Demikianlah hukum asalnya. Jika kita memiliki keinginan atau hajat lalu kita berdoa kepada Allah Taâala, kapan pun dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, tempat atau ibadah tertentu, kita dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika berdoa.
Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Dalam Suatu Ibadah
Banyak hadits-hadits yang menyebutkan praktek mengangkat tangan dalam berdoa dalam beberapa ritual ibadah, diantaranya:
1. Ketika berdoa istisqa dalam khutbah
Sahabat Anas bin Malik Radhiallahuâanhu berkata:
ÙØ§Ù اÙÙØ¨Ù صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ³ÙÙ
ÙØ§ ÙØ±Ùع ÙØ¯ÙÙ ÙÙ Ø´ÙØ¡ Ù
Ù Ø¯Ø¹Ø§Ø¦Ù Ø¥ÙØ§ ÙÙ Ø§ÙØ§Ø³ØªØ³Ùاء Ø ÙØ¥ÙÙ ÙØ±Ùع ØØªÙ ÙØ±Ù Ø¨ÙØ§Ø¶ إبطÙÙ
âBiasanya Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putihâ (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: âmaksudnya, dalam kondisi khutbah Nabi tidak pernah mengangkat kedua tangannya kecuali (jika dalam khutbah tersebut) beliau berdoa memohon hujan (istisqa)â (Syarhul Mumthiâ, 5/215). Menunjukkan bahwa ini dilakukan ketika istisqa baik dalam khutbah istisqa, ataupun dalam khutbah yang lainnya.
2. Ketika berdoa qunut dalam shalat
Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallahuâanhu:
ÙÙÙÙÙÙØ¯Ù' Ø±ÙØ£ÙÙÙ'ØªÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙ٠اÙÙÙ٠صÙÙÙÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙ'Ù
Ù ÙÙÙÙÙ'Ù
ÙØ§ صÙÙÙÙ'٠اÙÙ'ØºÙØ¯Ùاة٠رÙÙÙØ¹Ù ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ¯ÙØ¹ÙØ§ عÙÙÙÙÙ'ÙÙÙ
Ù'
âAku melihat Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam setiap shalat shubuh beliau mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi merekaâ (HR. Ahmad 12402, dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu 3/500)
Juga banyak diriwayatkan tentang hal ini dari perbuatan para sahabat Nabi, diantaranya Umar bin Khattab, diceritakan oleh Abu Raafiâ :
صÙÙØª Ø®Ù٠عÙ
ر Ø¨Ù Ø§ÙØ®Ø·Ø§Ø¨ رض٠اÙÙ٠عÙÙ ÙÙÙØª بعد Ø§ÙØ±ÙÙØ¹ ÙØ±Ùع ÙØ¯ÙÙ ÙØ¬Ùر Ø¨Ø§ÙØ¯Ø¹Ø§Ø¡
âAku shalat di belakang Umar bin Khattab Radhiallahuâanhu, beliau membaca doa qunut setelah rukuâ sambil mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan bacaannyaâ (HR. Al Baihaqi 2/212, dengan sanad yang shahih)
3. Ketika melempar jumrah
Berdasarkan hadits:
Ø£ÙÙÙÙ' Ø±ÙØ³ÙÙÙ٠اÙÙÙÙ'Ù٠صÙÙÙÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙ'Ù
Ù ÙÙØ§ÙÙ Ø¥ÙØ°Ùا رÙÙ
ÙÙ Ø§ÙØ¬ÙÙ
Ù'Ø±ÙØ©Ù اÙÙÙ'تÙ٠تÙÙÙÙ Ù
ÙØ³Ù'Ø¬ÙØ¯Ù Ù
ÙÙÙÙ ÙÙØ±Ù'Ù
ÙÙÙÙØ§ Ø¨ÙØ³ÙبÙ'ع٠ØÙصÙÙÙØ§ØªÙØ ÙÙÙÙØ¨ÙÙ'ر٠ÙÙÙÙÙ'Ù
ÙØ§ رÙÙ
ÙÙ Ø¨ÙØÙØµÙØ§Ø©ÙØ Ø«ÙÙ
ÙÙ' تÙÙÙØ¯ÙÙ'Ù
٠أÙÙ
ÙØ§Ù
ÙÙÙØ§Ø ÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù
ÙØ³Ù'تÙÙÙ'بÙÙ٠اÙÙÙØ¨Ù'ÙÙØ©ÙØ Ø±ÙØ§ÙÙØ¹Ùا ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ¯Ù'عÙÙØ ÙÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙØ·ÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙÙÙØ Ø«ÙÙ
ÙÙ' ÙÙØ£Ù'تÙÙ Ø§ÙØ¬ÙÙ
Ù'Ø±ÙØ©Ù Ø§ÙØ«ÙÙ'اÙÙÙÙØ©ÙØ ÙÙÙÙØ±Ù'Ù
ÙÙÙÙØ§ Ø¨ÙØ³ÙبÙ'ع٠ØÙصÙÙÙØ§ØªÙØ ÙÙÙÙØ¨ÙÙ'ر٠ÙÙÙÙÙ'Ù
ÙØ§ رÙÙ
ÙÙ Ø¨ÙØÙØµÙØ§Ø©ÙØ Ø«ÙÙ
ÙÙ' ÙÙÙÙ'ØÙØ¯ÙØ±Ù Ø°ÙØ§ØªÙ اÙÙÙØ³ÙØ§Ø±ÙØ Ù
ÙÙ
ÙÙ'ا ÙÙÙÙ٠اÙÙÙØ§Ø¯ÙÙÙØ ÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù
ÙØ³Ù'تÙÙÙ'بÙÙ٠اÙÙÙØ¨Ù'ÙÙØ©Ù Ø±ÙØ§ÙÙØ¹Ùا ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ¯Ù'عÙÙØ Ø«ÙÙ
ÙÙ' ÙÙØ£Ù'تÙÙ Ø§ÙØ¬ÙÙ
Ù'Ø±ÙØ©Ù اÙÙÙ'تÙ٠عÙÙÙ'Ø¯Ù Ø§ÙØ¹ÙÙÙØ¨ÙØ©ÙØ ÙÙÙÙØ±Ù'Ù
ÙÙÙÙØ§ Ø¨ÙØ³ÙبÙ'ع٠ØÙصÙÙÙØ§ØªÙØ ÙÙÙÙØ¨ÙÙ'ر٠عÙÙÙ'د٠ÙÙÙÙÙ' ØÙØµÙØ§Ø©ÙØ Ø«ÙÙ
ÙÙ' ÙÙÙÙ'ØµÙØ±ÙÙÙ ÙÙÙØ§Ù ÙÙÙÙÙ٠عÙÙÙ'دÙÙÙØ§
âRasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam biasanya ketika melempar jumrah yang berdekatan dengan masjid Mina, beliau melemparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap lemparan lalu berdiri di depannya menghadap kiblat, berdoa sambil mengangkat kedua tanganya. Berdiri di situ lama sekali. Kemudian mendatangi jumrah yang kedua, lalu melamparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir setiap lemparan, lalu menepi ke sisi kiri Al Wadi. Beliau berdiri mengahadap kiblat, berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau mendatangi Jumrah Aqabah, beliau melemparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir setiap lemparan, lalu pergi dan tidak berhenti di situâ (HR Bukhari 1753)
4. Ketika wukuf di Arafah
Diceritakan oleh Usamah bin Zaid Radhiallahuâanhu:
ÙÙÙÙ'ØªÙ Ø±ÙØ¯Ù'Ù٠اÙÙÙÙ'بÙÙÙÙ' صÙÙÙÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙ'Ù
Ù Ø¨ÙØ¹ÙرÙÙÙØ§ØªÙ «ÙÙØ±ÙÙÙØ¹Ù ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ¯Ù'عÙÙ
âAku pernah dibonceng oleh Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam di Arafah. Di sana beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoaâ (HR. An Nasaâi 3993, Ibnu Khuzaimah 2824, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasaâi)
Dan masih banyak dalil yang lain.
Adapun mengangkat tangan ketika berdoa yang terkait suatu ritual ibadah, hukumnya kembali pada dalil-dalil ibadah tersebut. Jika terdapat dalil bahwa Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam bahwa mengangkat tangan dalam ibadah tersebut, maka dianjurkan mengangkat tangan. Jika tidak ada dalil, maka tidak disyariâatkan mengangkat tangan.
Syaikh Abdul âAziz bin Baaz berkata: âBanyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam mengangkat tangan ketika berdoa istisqa, ketika melempar jumrah yang pertama dan kedua, ketika di awal-awal hari tasyriq, ketika haji wada, dan pada tempat-tempat yang lain. Namun setiap ibadah yang dilakukan di masa Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam, jika ketika melakukannya beliau tidak mengangkat kedua tangannya, berarti hal tersebut tidak disyariatkan kepada kita ketika melakukan ibadah tersebut. Ini dalam rangka meneladani Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam. Contohnya ketika khutbah jumâat, khutbah Ied, doa di antara dua sujud dalam shalat, doa-doa dzikir setelah shalat wajib, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Yang disyariatkan kepada kita adalah meneladani Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam dalam melakukan suatu atau meninggalkan suatu (dalam ibadah)â (Majmuâ Fatawa Ibnu Baaz, 26/144).
Karena dengan mengangkat tangan ketika berdoa yang ada dalam suatu ibadah, tanpa adanya dalil bahwa Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam ini berarti menambah tata cara ibadah tersebut. Contohnya, jika kita mengangkat tangan ketika membaca doa istiftah dalam shalat (yang dibaca sebelum Al Fatihah), padahal Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam tidak mencontohkan demikian, maka kita menambah 1 tata cara dalam shalat.
Tata Cara Mengangkat Tangan Dalam Berdoa
Banyak sekali tata cara mengangkat tangan dalam berdoa yang ada dalam riwayat-riwayat dari Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam dan para sahabat. Para ulama pun berselisih pendapat dalam sebagian tata cara tersebut namun khilaf ini merupakan khilaf tanawwuâ (variasi), dibolehkan mengambil mana saja dari variasi yang ada. Namun mengingkat banyak sekali praktek mengangkat tangan dalam berdoa yang beredar di masyarakat, hendaknya kita mencukupkan diri pada praktek-praktek mengangkat tangan yang dijelaskan oleh para ulama dan tidak mengikuti cara-cara yang tidak diketahui asalnya.
Jika kita kelompokkan, praktek-praktek mengangkat tangan dalam berdoa bisa dibagi menjadi tiga. Sebagaimana pembagian dari sahabat Ibnu âAbbas Radhiallahuâanhuma :
اÙÙ
Ø³Ø£ÙØ© Ø£Ù ØªØ±ÙØ¹ ÙØ¯ÙÙ ØØ°Ù Ù
ÙÙØ¨ÙÙ Ø£Ù ÙØÙÙÙ
ا ÙØ§ÙØ§Ø³ØªØºÙØ§Ø± Ø£Ù ØªØ´ÙØ± بأصبع ÙØ§ØØ¯Ø© ÙØ§ÙØ§Ø¨ØªÙØ§Ù أ٠تÙ
د ÙØ¯Ù٠جÙ
ÙØ¹Ø§
âAl Masâalah adalah dengan mengangkat kedua tanganmu sebatas pundak atau sekitar itu. Al Istighfar adalah dengan satu jari yang menunjuk. Al Ibtihal adalah dengan menengadahkan kedua tanganmu bersamaanâ (HR. Abu Daud 1489, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jamiâ 6694)
Jenis pertama: Al Masâalah. Merupakan jenis yang umumnya dilakukan dalam berdoa. Bentuk ini juga yang digunakan ketika membaca doa qunut, istisqa dan pada beberapa rangkaian ibadah haji. Yaitu dengan membuka kedua telapak tangan dan mengangkatnya sebatas pundak, sebagaimana digambarkan oleh Ibnu âAbbas. Juga berdasarkan hadits:
Ø¥ÙØ°Ùا Ø³ÙØ£ÙÙÙ'تÙÙ
٠اÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ§Ø³Ù'Ø£ÙÙÙÙÙÙ Ø¨ÙØ¨ÙØ·ÙÙÙ٠أÙÙÙÙÙÙ'ÙÙÙ
Ù' ÙÙÙØ§Ù ØªÙØ³Ù'Ø£ÙÙÙÙÙÙ Ø¨ÙØ¸ÙÙÙÙØ±ÙÙÙØ§
âJika engkau meminta kepada Allah, mintalah dengan telapak tanganmu, jangan dengan punggung tanganmuâ (HR. Abu Daud 1486, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 595)
Namun para ulama berbeda pendapat mengenai detail bentuknya:
Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa kedua telapak tangan dibuka namun kedua tidak saling menempel, melainkan ada celah diantara keduanya. (Lihat Al Mausuâah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 45/266)
Ulama Syafiâiyyah mengatakan telapak tangan mengarah ke langit dan punggung tangan ke arah bumi, boleh ditempelkan ataupun tidak. Ini dilakukan dalam doa untuk mengharapkan terkabulnya sesuatu. Sedangkan untuk mengharapkan hilangnya bala, punggung tangan yang menghadap ke langit, telapak tangan mengarah ke bumi (yaitu Al Ibtihal). (Lihat Al Mausuâah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 45/266)
Sedangkan Hanabilah berpendapat kedua tangan ditempelkan berdasarkan hadits:
ÙÙØ§Ù٠صÙÙÙÙ'٠اÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙ
Ø¥ÙØ°Ø§ Ø¯ÙØ¹Ùا ضÙ
ÙÙÙÙ ÙÙØ¬Ø¹Ù بطÙÙÙÙ
ا Ù
ÙÙ
ÙÙ'ا ÙÙÙÙÙ ÙÙØ¬ÙÙ
âBiasanya Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam ketika berdoa beliau menempelkan kedua telapak tangannya dan melihat pada kedua telapak tangannyaâ (HR. Ath Thabrani 5226, sanad hadits ini dhaif sebagaimana dikatakan oleh Al âIraqi dalam Takhrijul Ihya 1/326). (Lihat Al Mausuâah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 45/266)
Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh menjelaskan lebih detil jenis ini: âMengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka di depan dada, tepatnya di pertengahan dada. Umumnya bentuk ini yang digunakan oleh Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam dalam berdoa. Namun terkadang beliau beliau berdoa di Arafah dengan cara begini: mengangkat kedua tangannya tepatnya dipertengahan dada lalu menengadahkannya sebagaimana orang yang meminta makanan, tidak meletakannya dekat wajah namun juga tidak jauh dari wajah dan masih dikatakan ada di pertengahan dada. Juga dengan membuka kedua telapaknya bagaikan orang miskin yang meminta makananâ (Syarh Arbaâin An Nawawiyyah, 1/112)
Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan cara lain: âBoleh juga seseorang menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan kedua punggung tangannya menghadap kiblatâ (Tas-hih Ad Duâa, 1/117)
Jenis kedua: Al Istighfar. Yaitu dengan mengangkat tangan kanan dan jari telunjuk menunjuk ke atas. Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh mengatakan: âCara ini khusus bagi khatib yang berdiri. Jika ia berdoa, cukup jari telunjuknya menunjuk ke atas. Ini simbol dari doa dan tauhidnya. Tidak disyariatkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa) jika ia berkhutbah sambil berdiri di atas mimbar atau di atas benda lainnya, kecuali jika sedang berdoa istisqa (maka boleh mengangkat kedua tangan)â (Syarh Arbaâin An Nawawiyyah, 1/112). Termasuk dalam jenis ini, khatib jumâat yang membaca doa, yang sesuai sunnah adalah dengan mengacungkan telunjuknya ke langit ketika sedang berdoa.
Dalil dari jenis ini diantaranya hadits:
عÙÙÙ' عÙÙ
ÙØ§Ø±Ùة٠بÙ'ÙÙ Ø±ÙØ¤ÙÙÙ'Ø¨ÙØ©ÙØ ÙÙØ§ÙÙ: Ø±ÙØ£ÙÙ Ø¨ÙØ´Ù'ر٠بÙ'ÙÙ Ù
ÙØ±Ù'ÙÙØ§Ù٠عÙÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙÙÙ'Ø¨ÙØ±Ù Ø±ÙØ§ÙÙØ¹Ùا ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙØ ÙÙÙÙØ§ÙÙ: «ÙÙØ¨ÙÙ'ØÙ اÙÙÙÙ ÙÙØ§ØªÙÙÙ'Ù٠اÙÙ'ÙÙØ¯ÙÙÙ'ÙÙØ ÙÙÙÙØ¯Ù' Ø±ÙØ£ÙÙÙ'ØªÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙ٠اÙÙÙ٠صÙÙÙÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙ'Ù
Ù Ù
ÙØ§ ÙÙØ²ÙÙØ¯Ù عÙÙÙ٠أÙÙÙ' ÙÙÙÙÙÙ٠بÙÙÙØ¯ÙÙÙ ÙÙÙÙØ°ÙØ§Ø ÙÙØ£ÙØ´ÙØ§Ø±Ù Ø¨ÙØ¥ÙصÙ'Ø¨ÙØ¹ÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙØ³ÙبÙÙ'ØÙةٻ
âDari âUmarah bin Ruâaybah, ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi khatib) di atas mimbar. âUmarah lalu berkata kepadanya: âSemoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam ketika menjadi khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini: (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya)ââ (HR. Muslim, 847)
Jenis ketiga: Al Ibtihal. Yaitu dengan bersungguh-sungguh mengangkat kedua tangan ke atas dengan sangat tinggi hingga terlihat warna ketiak. Boleh juga hingga punggung tangan menghadap ke langit dan telapaknya menghadap ke bumi. Jenis ini dilakukan ketika keadaan benar-benar sulit, mendapat musibah yang sangat berat, sedang sangat-sangat mengharapkan sesuatu, atau berdoa dalam keadaan sangat berduka, atau ketika istisqa (memohon hujan). Diantara dalil dari jenis ini adalah hadits Anas bin Malik Radhiallahuâanhu :
ÙØ§Ù اÙÙØ¨Ù صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ³ÙÙ
ÙØ§ ÙØ±Ùع ÙØ¯ÙÙ ÙÙ Ø´ÙØ¡ Ù
Ù Ø¯Ø¹Ø§Ø¦Ù Ø¥ÙØ§ ÙÙ Ø§ÙØ§Ø³ØªØ³Ùاء Ø ÙØ¥ÙÙ ÙØ±Ùع ØØªÙ ÙØ±Ù Ø¨ÙØ§Ø¶ إبطÙÙ
âBiasanya Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putihâ (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)
Juga dalam hadits lain dari Anas bin Maalik Radhiallahuâanhu:
Ø£ÙÙÙÙ' اÙÙÙÙ'بÙÙÙÙ' صÙÙÙÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙ'Ù
٠اسÙ'ØªÙØ³Ù'ÙÙÙØ ÙÙØ£ÙØ´ÙØ§Ø±Ù Ø¨ÙØ¸ÙÙÙ'ر٠ÙÙÙÙÙ'ÙÙ'Ù٠إÙÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙÙ'Ù
ÙØ§Ø¡Ù
âPernah Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam ber-istisqa (meminta hujan), beliau mengarahkan punggung tangannya ke langitâ (HR. Muslim 895)
Semoga bermanfaat.
Sumber/foto/artikelasal:Muslim.or.id
loading...
Belum ada tanggapan untuk "Mengangkat Tangan Ketika Sedang Berdoa â Post Share Indonesia"
Posting Komentar