Pembaca yang budiman, diantara adab ketika di masjid adalah tidak melakukan jual-beli di dalamnya. Bahkan hal ini dilarang oleh Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam. Simak penjelasan berikut.
Dalil-dalil terlarangnya jual-beli di masjid
Dari Abu Hurairah radhiallahuâanhu, bahwa Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam bersabda:
إذا Ø±Ø£ÙØªÙÙ
Ù
Ù ÙØ¨ÙØ¹Ù Ø£Ù ÙØ¨ØªØ§Ø¹Ù Ù٠اÙÙ
Ø³Ø¬Ø¯ÙØ ÙÙÙÙÙØ§ : ÙØ§ أربØÙ اÙÙÙ٠تجارتÙÙ . ÙØ¥Ø°Ø§ Ø±Ø£ÙØªÙÙ
Ù
Ù ÙÙØ´Ø¯Ù ÙÙÙ Ø¶Ø§ÙØ© ÙÙÙÙÙØ§ : ÙØ§ ردÙ'٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙ
âJika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu. Dan jika engkau melihat orang di masjid yang mengumumkan barangnya yang hilang, maka katakanlah: semoga Allah tidak mengembalikan barangmuâ (HR. At Tirmidzi no. 1321, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 573).
Dari âAmr bin Syuâaib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia mengatakan:
ÙÙÙ٠رسÙÙ٠اÙÙ٠صÙÙ'Ù٠اÙÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ³ÙÙ'ÙÙ
عÙÙ Ø§ÙØ´Ø±Ø§Ø¡Ù ÙØ§ÙØ¨ÙØ¹Ù Ù٠اÙÙ
Ø³Ø¬Ø¯Ù ÙØ£Ù تÙÙØ´Ùد٠ÙÙÙ Ø§ÙØ£Ø´Ø¹Ø§Ø±Ù ÙØ£Ù تÙÙØ´Ùد٠ÙÙÙ Ø§ÙØ¶Ù'ÙØ§ÙÙ'ÙØ©Ù ÙØ¹ÙÙ Ø§ÙØÙÙÙÙÙ ÙÙÙ
Ù Ø§ÙØ¬Ù
ÙØ¹ÙØ©Ù ÙØ¨ÙÙ Ø§ÙØµÙاةÙ
âRasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam melarang melakukan jual-beli di masjid, dan melarang melantunkan nasyid berupa syaâir-syaâir, dan melarang mengumumkan barang yang hilang, dan melarang mengadakan halaqah sebelum shalat Jumâatâ (HR. Ahmad 10/156, Ahmad Syakir mengatakan: âsanadnya shahihâ).
Hukum jual-beli di masjid
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum jual beli di masjid antara haram dan makruh. Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan:
Ø£ÙÙ
Ù'ÙØ§ اÙÙ'بÙÙÙ'ع٠ÙÙØ§ÙØ´Ù'ÙØ±Ùاء٠ÙÙØ°ÙÙÙØ¨Ù جÙÙ
Ù'ÙÙÙØ±Ù اÙÙ'عÙÙÙÙ
ÙØ§Ø¡Ù Ø¥ÙÙ٠أÙÙÙ'٠اÙÙÙ'ÙÙÙ'ÙÙ Ù
ÙØÙ'Ù
ÙÙÙ٠عÙÙÙ٠اÙÙ'ÙÙØ±ÙاÙÙØ©ÙØ ÙÙØ§ÙÙØ§ÙÙ'Ø¹ÙØ±ÙاÙÙÙÙ'Ù: ÙÙÙÙØ¯Ù' Ø£ÙØ¬Ù'Ù
ÙØ¹Ù اÙÙ'عÙÙÙÙ
ÙØ§Ø¡Ù عÙÙÙ٠أÙÙÙ'Ù Ù
ÙØ§ عÙÙÙØ¯Ù Ù
ÙÙÙ' اÙÙ'بÙÙÙ'ع٠ÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙØ³Ù'Ø¬ÙØ¯Ù ÙÙØ§ ÙÙØ¬ÙÙØ²Ù ÙÙÙÙ'ضÙÙÙØ ÙÙÙÙÙÙØ°Ùا ÙÙØ§Ù٠اÙÙ'Ù
ÙØ§ÙÙØ±Ù'دÙÙÙ'Ù. ÙÙØ£ÙÙÙ'ØªÙ Ø®ÙØ¨ÙÙØ±Ù Ø¨ÙØ£ÙÙÙ'Ù ØÙÙ
Ù'Ù٠اÙÙÙ'ÙÙÙ'Ù٠عÙÙÙ٠اÙÙ'ÙÙØ±ÙاÙÙØ©Ù ÙÙØÙ'ØªÙØ§Ø¬Ù Ø¥ÙÙÙ ÙÙØ±ÙÙÙÙØ©Ù ØµÙØ§Ø±ÙÙÙØ©Ù عÙÙÙ' اÙÙ'Ù
ÙØ¹Ù'ÙÙ٠اÙÙ'ØÙÙÙÙÙÙÙÙ'٠اÙÙ'ÙØ°ÙÙ ÙÙÙÙ Ø§ÙØªÙ'ÙØÙ'رÙÙÙ
٠عÙÙÙ'د٠اÙÙ'ÙÙØ§Ø¦ÙÙÙÙÙÙ Ø¨ÙØ£ÙÙÙ'٠اÙÙÙ'ÙÙÙ'ÙÙ ØÙÙÙÙÙÙØ©Ù ÙÙÙ Ø§ÙØªÙ'ÙØÙ'رÙÙÙ
Ù ÙÙÙÙÙ٠اÙÙ'ØÙÙÙ'Ù ÙÙØ¥ÙجÙ'Ù
ÙØ§Ø¹ÙÙÙÙ
Ù' عÙÙÙÙ Ø ¹ÙدÙÙ
٠جÙÙÙØ§Ø²Ù اÙÙÙ'ÙÙÙ'ض٠ÙÙØµÙØÙ'ÙØ©Ù اÙÙ'عÙÙÙ'د٠ÙÙØ§ Ù
ÙÙÙØ§ÙÙØ§Ø©Ù بÙÙÙ'ÙÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙ'ÙÙ Ø§ÙØªÙ'ÙØÙ'رÙÙÙ
Ù ÙÙÙÙØ§ ÙÙØµÙØÙ'Ù Ø¬ÙØ¹Ù'ÙÙÙÙ ÙÙØ±ÙÙÙÙØ©Ù ÙÙØÙÙ
Ù'Ù٠اÙÙÙ'ÙÙÙ'Ù٠عÙÙÙ٠اÙÙ'ÙÙØ±ÙاÙÙØ©Ù ÙÙØ°ÙÙÙØ¨Ù Ø¨ÙØ¹Ù'Ø¶Ù Ø£ÙØµÙ'ØÙØ§Ø¨Ù Ø§ÙØ´Ù'ÙØ§ÙÙØ¹ÙÙÙ'٠إÙÙ٠أÙÙÙ'ÙÙÙ ÙÙØ§ ÙÙÙÙ'رÙÙ٠اÙÙ'بÙÙÙ'ع٠ÙÙØ§ÙØ´Ù'ÙØ±Ùاء٠ÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙØ³Ù'Ø¬ÙØ¯Ù ÙÙØ§ÙÙ'Ø£ÙØÙØ§Ø¯ÙÙØ«Ù ØªÙØ±ÙدÙ'٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ
âAdapun masalah jual-beli di masjid, jumhur ulama berpendapat bahwa larangan dalam hadits di bawa kepada hukum makruh. Al Iraqi mengatakan: âUlama ijma bahwa akad jual-beli yang sudah terjadi di masjid tidak boleh dibatalkanâ. Demikian juga yang dikatakan Al Marwadi. Maka anda yang mengatakan bahwa larangan dalam hadits di bawa kepada hukum makruh, maka ia butuh kepada qarinah yang memalingkan dari makna yang hakiki dari larangan yaitu pengharaman. Dan ini merupakan pendapat sebagian ulama, yaitu bahwa larangan dalam hadits dimaknai secara hakiki, yaitu pengharaman. Dan inilah pendapat yang tepat.
Adapun ijma ulama bahwasanya akad jual-beli tidak boleh dibatalkan dan akadnya tetap sah maka ini tidak bertentangan dengan pengharaman. Maka tidak sah menjadikannya qarinah untuk memalingkan larangan kepada hukum makruh. Sebagian ulama Syafiâiyyah berpendapat hukumnya tidak makruh (baca: boleh) berjual-beli di masjid, namun ini terbantah oleh hadits-hadits yang adaâ (Nailul Authar, 2/185-186).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:
Ø§ÙØ¨ÙØ¹Ù ÙØ§ÙØ´Ù'ÙØ±Ø§Ø¡Ù ÙØ§ÙتÙ'ÙØ£Ø¬ÙØ±Ù ÙØ§Ùاستئجار٠Ù
ØØ±Ù'ÙÙ
Ù Ù٠اÙÙ
Ø³Ø¬Ø¯Ø ÙØ£ÙÙ'ÙÙ ÙÙØ§ÙÙ Ù
ا بÙÙÙÙÙØªÙ' اÙÙ
Ø³Ø§Ø¬ÙØ¯Ù Ù
٠أجÙÙÙ
âMenjual, membeli, menyewakan, menawarkan sewaan, semuanya haram dilakukan di masjid, karena ini menafikan tujuan masjid dibangun (yaitu untuk ibadah, pent.)â (Fatawa Nurun âalad Darbi, 33/22)
Maka dari penjelasan ini semua bentuk jual beli dan yang terkait dengannya seperti promosi, menawarkan barang, menyerahkan barang yang terutang pembayarannya, dan semisalnya semua itu terlarang.
Dari penjelasan Asy Syaukani di atas juga kita ketahui bahwa ulama ijma bahwa jual-beli yang dilakukan di masjid tetap sah akadnya, namun berdosa jika dilakukan dengan sengaja.
Alasan terlarangnya jual-beli di masjid
Jual-beli di masjid dilarang agar orang tidak sibuk dengan urusan dunia di masjid. Sehingga ia lalai dari akhirat dan lalai dari dzikir kepada Allah di rumah Allah. Lihat bagaimana sikap Athaâ bin Yasar (seorang ulama tabiâin) rahimahullah berikut ini:
ÙÙØ§ÙÙ Ø¥ÙØ°Ùا Ù
ÙØ±Ù'٠عÙÙÙÙÙ'ÙÙ Ø¨ÙØ¹Ù'ض٠Ù
ÙÙÙ' ÙÙØ¨ÙÙØ¹Ù ÙÙ٠اÙÙ'Ù
ÙØ³Ù'Ø¬ÙØ¯ÙØ Ø¯ÙØ¹ÙاÙÙ ÙÙØ³ÙØ£ÙÙÙÙÙ Ù
ÙØ§ Ù
ÙØ¹ÙÙÙ (1) ÙÙÙ
ÙØ§ ØªÙØ±ÙÙØ¯ÙØ ÙÙØ¥ÙÙÙ' Ø£ÙØ®Ù'Ø¨ÙØ±ÙÙ٠أÙÙÙ'ÙÙÙ ÙÙØ±ÙÙØ¯Ù Ø£ÙÙÙ' ÙÙØ¨ÙÙØ¹ÙÙÙØ ÙÙØ§ÙÙ: عÙÙÙÙÙ'ÙÙ Ø¨ÙØ³ÙÙÙÙ Ø§ÙØ¯Ù'ÙÙÙ'ÙÙØ§. ÙÙØ¥ÙÙÙ'ÙÙ
ÙØ§ ÙØ°Ùا سÙÙÙÙ Ø§ÙØ¢Ø®ÙØ±ÙØ©Ù
âJika Atha bin Yasar melewati orang yang berjual-beli di masjid, ia memanggilnya dan menanyakan apa yang ia bawa dan apa yang ia inginkan? Jika orang tersebut menjawab bahwa ia ingin berjual beli maka Atha akan berkata: silakan anda pergi ke pasar dunia, karena di sini adalah pasar akhiratâ (Al Muwatha Imam Malik, no. 601).
Juga sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, jual beli di masjid terlarang karena tidak sesuai dengan tujuan dibangunnya masjid.Rasulullah Shallallahuâalaihi Wasallam bersabda:
Ø¥ÙÙÙ'ÙÙ
ÙØ§ ÙÙÙÙ ÙÙØ°ÙÙÙ'ر٠اÙÙÙÙ Ø¹ÙØ²Ù'Ù ÙÙØ¬ÙÙÙ'Ù ÙÙØªØ§ØµÙ'ÙÙØ§Ùة٠ÙÙÙÙØ±ÙØ§Ø¡ÙØ©Ù اÙÙ'ÙÙØ±Ù'Ø¢ÙÙ
âSesungguhnya masjid-masjid dibangun hanya untuk dzikir kepada Allah âAzza wa Jalla, untuk shalat, dan membaca Al Qurâanâ (HR. Muslim, no. 285).
Batasan area masjid yang dilarang jual-beli
Nabi Shallallahuâalaihi Wasallam bersabda dalam hadits di atas:
إذا Ø±Ø£ÙØªÙ
Ù
Ù ÙØ¨Ùع Ø£Ù ÙØ¨ØªØ§Ø¹ Ù٠اÙÙ
سجد
âJika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjidâ¦â
Maka larangan berjual-beli di sini terkait dengan tempat yang disebut âmasjidâ. Sehingga penting untuk mengetahui apa saja batasan area masjid, karena jika suatu area termasuk batasan masjid maka berlakulah larangan berjual-beli di sana. Dalam kitab Fiqhul Iâtikaf (hal. 128-134), Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan batasan-batasan masjid. Yang ringkasnya sebagai berikut:
Semua tempat yang digunakan untuk shalat adalah termasuk masjid. Para ulama sepakat akan hal ini.
Atap masjid. Jumhur ulama berpendapat atap masjid adalah bagian dari masjid dan sahnya beriâtikaf di sana. Adapun Malikiyyah berpendapat atap masjid bukan bagian dari masjid karena tidak sah shalat Jumâat di sana. Namun ini pendapat yang lemah.
Halaman masjid. Dalam hal ini ada tiga pendapat berkaitan dengan apakah halaman masjid termasuk masjid?
Jika bersambung dengan masjid dan dilingkupi oleh sesuatu seperti pagar, maka termasuk masjid. Jika tidak bersambung atau tidak ada pagar, maka halaman masjid tidak termasuk masjid, dan dianggap keluar masjid jika berada di sana. Ini merupakan pendapat Syafiâiyyah, Imam Ahmad, sebagian Hanabilah.
Halaman masjid secara mutlak (tidak ada pembatasnya), maka tidak termasuk masjid. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan pendapat pegangan mazhab Hanabilah.
Menara masjid yang digunakan untuk adzan. Ada tiga keadaan:
Jika menara berada di dalam masjid, maka ia bagian dari masjid menurut jumhur ulama. Namun Malikiyyah menyatakan tidak sah.
Jika menara berada di luar masjid, ada tiga pendapat:
Dianggap bagian masjid bagi muadzin tetap. Ini pendapat sebagian Hanafiyyah, pendapat pegangan mazhab Syafiâiyyah, sebagian Hanabilah dan Ibnu Hazm.
Bukan bagian dari masjid, ini pendapat muâtamad mazhab Hanafiyyah, dan sebagian Syafiâiyyah.
Merupakan bagian dari masjid. Ini pendapat sebagian Syafiâiyyah, pendapat pegangan madzhab Malikiyyah dan Hanabilah. Pendapat pertama yang lebih rajih, karena menara dibangun hanya untuk kemaslahatan adzan masjid.
Jika berada di halaman masjid, hukumnya sebagaimana hukum halaman masjid.
Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh juga mengatakan:
Ù
ا ÙØ§Ù ØØ§Ø¦Ø· اÙÙ
سجد شاÙ
ÙØ§Ù ÙÙ
ÙØ¯Ø®Ùا٠ÙÙ Ù٠اÙÙ
سجد ÙÙÙ Ù
٠اÙÙ
Ø³Ø¬Ø¯Ø ÙÙ
ا ÙØ§Ù خارج Ù
ØÙØ· اÙÙ
سجد ÙÙ٠خارج اÙÙ
سجد
âSelama dinding (pagar) masjid itu sempurna mengelilingi masjid maka semua yang di dalamnya termasuk masjid, dan semua yang di luarnya tidak termasuk masjidâ (Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, 59/81).
Sebagaimana juga kaidah fikih:
Ø§ÙØÙØ±ÙÙÙ
Ù ÙÙÙÙ ØÙÙÙ'Ù
Ù Ù
ÙØ§ ÙÙÙÙ ØÙرÙÙÙ
Ù ÙÙÙÙ
âLingkar luar dari sesuatu memiliki hukum yang sama dengan sesuatu tersebutâ (Al Asybah wan Nazhair, As Suyuthi, 1/125).
Kaidah ini didasari oleh hadits:
Ø£ÙÙÙØ§ ÙÙØ¥ÙÙÙ'Ù ÙÙÙÙÙÙ'Ù Ù
ÙÙÙÙÙ ØÙÙ
ÙÙØ Ø£ÙÙÙØ§ ÙÙØ¥ÙÙÙ'Ù ØÙÙ
Ù٠اÙÙÙÙ Ù
ÙØÙØ§Ø±ÙÙ
ÙÙÙ
âKetahuilah bahwa setiap raja itu memiliki daerah perbatasan, dan daerah perbatasan Allah adalah yang Allah haramkanâ (HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599).
Ringkasnya, jika masjid memiliki pagar, maka tidak boleh berjual-beli di area dalam pagar. Adapun jika masjid tidak memiliki pagar, maka batasan terlarangnya jual beli adalah area yang dipakai untuk shalat, demikian juga semua bangunan yang bersambung dengan bangunan masjid.
Boleh hutang-piutang di masjid
Kita ketahui bersama, hutang-piutang berbeda dengan jual beli. Sehingga dibolehkan dilakukan di masjid selama tidak berpanjang-panjang dan dan berlama-lama. Dalam Al Mukhtashar karya Al Khalil Al Maliki rahimahullah di sebutkan:
ÙØ¬Ø§Ø² بÙ
سجد سÙÙÙ ÙØ±Ø¬Ù تجرد ÙÙØ¹Ø¨Ø§Ø¯Ø© ÙÙØ¹ÙÙÙ'د٠ÙÙÙÙØ§ØÙ ÙÙÙÙØ¶Ùاء٠دÙÙÙ'ÙÙ ÙÙÙÙØªÙ'Ù٠عÙÙÙ'Ø±ÙØ¨Ù ÙÙÙÙÙÙ'Ù
٠بÙÙÙØ§Ø¦ÙÙÙØ©Ù
âHal-hal berikut ini boleh dilakukan di masjid: bertempat tinggal di masjid bagi lelaki yang kesehariannya hanya beribadah, melakukan akad nikah, melunasi hutang, membunuh kalajengking, dan tidur qailulahâ (Mukhtashar Al Khalil,1/211).
Ibnu Naji At Tanukhi rahimahullah mengatakan:
ÙÙØ¨ØºÙ Ø£Ù ØªÙØ²Ù اÙÙ
ساجد Ø¹Ù Ø§ÙØ¨Ùع ÙØ§ÙØ´Ø±Ø§Ø¡Ø ÙØ§Ø³ØªØ®Ù ÙÙ Ø§ÙØ¨ÙØ§Ù ÙØ¶Ø§Ø¡ Ø§ÙØ¯ÙÙ ÙÙØªØ¨ Ø§ÙØÙ ÙÙÙ Ù
ا ÙÙ
ÙØ·Ù
âHendaknya masjid dibersihkan dari semua bentuk jual-beli, namun berdasarkan penjelasan penulis, diberikan kelonggaran untuk melunasi hutang dan menulis hak-hak hutang, selama tidak berpanjang-panjangâ (Syarah Ibnu Naji At Tanukhi âala Matnir Risalah, 2/482).
Ini menunjukkan bahwa boleh melakukan akad hutang-piutang di masjid, namun hendaknya tidak menyibukkan diri dengannya.
Demikian paparan singkat mengenai masalah jual-beli di masjid. Semoga bermanfaat.
Wabillahi at taufiq was sadaad.
Â
Sumber/foto/artikelasal:Muslim.or.id
loading...
Belum ada tanggapan untuk "Dilarangnya Transaksi Jual-Beli Di Masjid â Post Share Indonesia"
Posting Komentar