TRIBUNNEWS.COM -- Kemacetan lalu lintas masih menjadi permasalahan utama di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Untuk itulah, aplikasi mobile PayRide ingin membuktikan bahwa terjebak kemacetan tidak selamanya menyusahkan.
PayRide menggabungkan iklan pada bodi mobil dengan teknologi pelacakan yang cerdas, sehingga para pemilik mobil bisa mendapatkan penghasilan lebih dari waktu yang mereka habiskan di jalan. Sementara itu, perusahaan akan mendapatkan cara yang unik dan efektif untuk melakukan promosi.
âTerjebak dalam kemacetan parah tentu memakan uang yang tidak sedikit. Dengan sekian banyaknya waktu yang terbuang di jalan, pengemudi harus menanggung biaya bahan bakar yang terbuang sia-sia. Platform kami ingin mengubah hal ini dengan memberikan kesempatan baru bagi pengemudi untuk mendapatkan penghasilan tambahan lewat periklanan di bodi mobil. Kami rasa, ini adalah solusi yang sama-sama menguntungkan, baik bagi pengemudi maupun pengiklan,â kata Agus Widjaja, founder dan CEO PayRide.
Setelah mendaftar di PayRide, pengemudi diberikan kebebasan untuk langsung memilih iklan yang sedang ditawarkan oleh PayRide beserta dengan desain stiker iklan tersebut.
Sementara itu, pengiklan berhak memilih jenis wrapping untuk materi promosi mereka. Setelah mobil selesai dilabeli stiker iklan dan siap turun ke jalan, maka pelacak GPS akan memberikan analisis real-time yang mengukur impression iklan tersebut.
Tidak seperti para pesaingnya, PayRide menggunakan perangkat pelacak GPS khusus dan tidak bergantung pada GPS di ponsel pengemudi. Menurut Agus, strategi perusahaan ini justru memberikan analisis yang lebih akurat dan terpercaya bagi para pengiklan, serta mencegah kemungkinan perusakan data dari pihak manapun.
Perusakan data adalah masalah yang cenderung terjadi pada sistem GPS ponsel pintar. Tak hanya itu, perangkat PayRide juga lebih mudah digunakan oleh pengemudi karena mengandalkan daya dari kendaraan, alih-alih menghabiskan baterai ponsel.
Tidak seperti startup sejenisnya di Indonesia, PayRide juga membayar pengemudi berdasarkan hasil impression iklan, bukan berdasarkan jarak per kilometer. Ketika menghitung imbalan bagi pengemudi, aplikasi akan mengkalkulasikan faktor letak jalan dan jam-jam mengemudi.
Misalnya, pengemudi akan mendapatkan imbalan lebih tinggi saat mengemudikan mobil di jalan yang ramai dan pada jam sibuk, karena iklan mereka bisa terlihat oleh lebih banyak pengguna jalan.
Menurut Widjaja, langkah ini juga bagus untuk pengiklan yang hendak menjangkau pelanggan dengan cara yang unik dan berkesan. Mereka dapat menggunakan mobil sebagai "papan iklan yang bergerak."
Belum ada tanggapan untuk "PayRide Meramaikan Persaingan untuk Meningkatkan Peluang Mobil Pengiklan di Indonesia"
Posting Komentar